Archive for Januari 2009
Mendorong Berpikir Kreatif Siswa ( oleh Tatag Yuli Eko Siswono, Jurusan Matematika FMIPA, UNESA)
Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang hanya menekankan pada kemampuan berpikir logis dengan penyelesaian yang tunggal dan pasti. Hal ini yang menyebabkan matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi siswa. Padahal, matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dan menjadi salah satu pengukur (indikator) keberhasilan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan, serta menjadi materi ujian untuk seleksi penerimaan menjadi tenaga kerja bidang tertentu. Melihat kondisi ini berarti matematika tidak hanya digunakan sebagai acuan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tetapi juga digunakan dalam mendukung karier seseorang. Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan keluaran pendidikan yang tidak hanya trampil dalam suatu bidang tetapi juga kreatif dalam mengembangkan bidang yang ditekuni. Hal tersebut perlu dimanifestasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, termasuk matematika. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika. Tetapi, fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam matematika jarang atau tidak pernah tersentuh oleh pendidik. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Bagaimana upaya mendorong kemampuan berpikir kreatif dalam matematika itu? Salah satu pendekatan adalah dengan berorientasi pada konsep masalah pada suatu tugas atau situasi. Secara alami, seseorang apabila dihadapkan pada suatu masalah akan mulai berpikir dengan mencari alternatif-alternatif penyelesaiannya. Hal tersebut memang sifatnya individual. Suatu masalah bagi seseorang belum tentu menjadi masalah bagi orang lain. Misalkan seorang siswa kelas satu SD dihadapkan pada suatu pertanyaan “kalau kamu diberi apel oleh kedua kakakmu masing-masing 3 buah, dan kamu bawa 2 buah apel ke sekolah, maka berapa apel yang kamu tinggal di rumah?”. Bagi siswa tersebut pertanyaan itu bisa menjadi “masalah”, jika mereka memahami pertanyaan dan mengetahui langkah atau prosedur yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikannya, meskipun mungkin jawaban yang diberikan salah. Pertanyaan itu bisa juga bukan merupakan masalah, karena siswa tersebut tidak memahami pertanyaan tersebut dan pengetahuannya (pengetahuan prasyarat) belum dimiliki. Siswa tidak mengetahui langkah yang seharusnya diambil dalam menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, dapat terjadi karena siswa sudah pernah menghadapi pertanyaan itu di kelas atau pengalaman sehari-harinya, sehingga pertanyaan itu bukan masalah baginya, karena dapat dijawab dengan langsung berdasar pengalaman sebelumnya. Jadi perlu kecermatan dan kehati-hatian dalam memilih suatu pertanyaan atau soal sehingga menjadi suatu masalah yang menyebabkan seseorang atau siswa tertantang untuk menyelesaikannya. Suatu masalah bukan berarti suatu soal atau pertanyaan yang sulit dan hanya mampu dipecahkan oleh beberapa siswa yang cerdas atau berbakat dalam matematika saja, tetapi dipilih suatu pertanyaan yang tidak rutin (soal yang bukan baru saja diajarkan langkah-langkah penyelesaiannya), menantang, dan sebagian besar siswa mempunyai kapasitas memahami dan mempunyai cara-cara (strategi) tertentu untuk menyelesaikannya. Memberi tugas pemecahan masalah itu diyakini akan mendorong kemampuan berpikir siswa termasuk kemampuan berpikir kreatif. Apalagi jika masalah yang diberikan adalah masalah yang divergen tidak hanya pada cara tetapi juga pada jawaban yang tidak tunggal. Soal-soal yang rutin umumnya menuntut cara penyelesaian dan jawaban tunggal yang pasti (tepat), sedang non rutin memberi peluang perbedaan dalam cara maupun jawaban yang semuanya benar dan diterima secara logis. Upaya lain adalah dengan tugas pengajuan masalah. Pengajuan masalah intinya merupakan tugas kepada siswa untuk membuat atau merumuskan masalah sendiri yang kemudian dipecahkannya sendiri atau dipecahkan teman lainnya. Kegiatan pembelajaran matematika yang umum adalah siswa diberi masalah oleh guru (dari buku) dan diminta memecahkannya. Pengajuan masalah membalik prosedur itu dengan siswa membuat sendiri pertanyaan dan mencoba memecahkannya. Kegiatan ini mendorong siswa berpikir secara kreatif bagaimana suatu pertanyaan yang dapat dikerjakan ia sendiri atau teman lainnya dan mereka mencoba memahami suatu konsep atau materi yang telah dipelajarinya. Hasil penelitian penulis telah menunjukkan beberapa bukti bahwa pemecahan masalah maupun pengajuan masalah mendorong munculnya kemampuan berpikir kreatif dalam matematika.
Mempimpin di Tengah Pemimpin
Kegelisahan yang membayangi ketika seseorang dipilih menjadi seorang pemimpin adalah ketika mengetahui bahwa yang dipimpinnya adalah pemimpin-pemimpin lain. Bukan hanya mantan pimpinan, guru, atau panutan dalam hidupnya tapi benar-benar pimpinan yang level berpikir, tingkat kekuasaannya melebihi dari pimpinannya sendiri. Apa yang akan pemimpin itu lakukan? Belajar. Belajar kata unggulan kalau tidak diartikan sebagai alih-alih dari menunggu dan melihat sampai bosan kemudian baru dilakukan. Ketika sudah ditasbihkan sebagai pemimpin, maka saat itu bukan lagi belajar, tapi mengingat kembali dan mencoba implementasi hasil-hasil dan proses-proses belajar yang telah dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Pemimpin tentunya tidak lahir seperti bayi yang tiba-tiba hadir dengan keberkahan atau rezeki yang diturunkan dari langit. Pemimpin tentunya lahir dari proses panjang yang dibangun dari keseharian, pergaulan, bukti-bukti nyata serta keyakinan orang-orang yang menaruh harapan. Sebagaimana banyak kisah ksatria dalam pewayangan bahwa wahyu (misalkan makutorama) itu datang kepada pencarinya (kstaria), bukan pencari mencari wahyu itu. Banyak cerita kegagalan jika wahyu itu dikejar, diburu, diharap-harap dengan berlebihan, apalagi dengan kecurangan, tipu daya, atau muslihat. Sebaliknya, seseorang yang memang akan mendapatkan jatmiko, tetap memendam untuk berbuat sebaik-baiknya (obsesi) dan mencari keinginan itu melalui laku utomo (jalan keutamaan) dalam keseharian sehingga melahirkan keyakinan, menumbuhkan citra, mengukir kharisma, menggairahkan doa bagi siapa saja yang memperhatikan. Hal terjadi juga, menciptakan sinisme, mendorong ejekan, maupun kebimbangan bagi mereka yang tidak menginginkan. Kalau begitu pemimpin bukan takdir, tetapi kepercayaan dan keyakinan bahwa diantara para pemimpin itu ada satu yang diyakini sebagai ”simbol” pemimpin.
Bisa dibayangkan bila seekor singa diantara singa-singa lain. Singa-singa itu tidak bisa ditundukkan dengan besarnya taring atau kerasnya auman. Singa-singa itu tidak gentar bila seekor singa akan membawa tetua singa untuk mendampingi dan menceritakan sejarah-sejarah atau tamsil kekuasaannya. Satu ekor singa tentu akan kalah beradu auman bila lainnya mengaum. Para singa akan berdalih bahwa kami yang menjadikan kamu pemimpin, maka tunduklah kamu padaku. Bagaimana engkau seekor singa pemimpin? Apakah dayamu dan nyalimu tunduk, lunglai, dan mati? Tentu tidak. Mereka para singa memilih pada pemimpinnya, pasti ada yang dengan harapan dan keyakinan. Pasti ada yang mendoakan untuk tegar dan semangat menghela para singa. Keyakinan itu menjadi keteguhan, inspirasi, dan semangat. Akan dipahami bahwa singa-singa di dunia pasti mempunyai seringai yang berbeda-beda. Mereka mempunyai nada auman dengan oktaf bervariasi. Mereka mempunyai rahasia kelemahan masing-masing. Dengan demikian, kunci kekuatannya adalah pada pemahaman terhadap para singa, tidak mengigit-menyeringai dahulu, tidak menunjukkan belang-belang dan tentunya yakin dan percaya bahwa seekor singa pemimpin dipilih karena nilai lebih yang dimiliki meskipun kadang tidak disadari.
Karena berada dalam suatu gerombolan, maka akan ada para singa diantaranya beradu lari. Mengajak sebagian singa dibawah bayang-bayangnya. Mendorong singa lain membangun wilayah-wilayah lain. Bahkan bisa jadi mengancam, intimidasi, atau provokasi terhadap singa-singa lain. Bagaimanakah jalanmu seekor singa? Berlarikah kau dalam kekalutan dan berharap bangun pagi bukan di tempat tidurmu? Apakah dengan senyum seperti Bu Megawati dan membiarkan sirna? Ataukah seperti Gus Dur yang membiarkan begitu saja dan berguman ”begitu kok repot!”? Memang, itu salah satu cara, tetapi itu tidak diharapkan, bukan? Perbedaan kepentingan, motivasi, pengaruh, dominasi, maupun persaingan menumbuhkan konflik. Konflik tidak akan teratasi jika dibiarkan. Konflik bukan hal yang tidak menyenangkan, bila dinikmati akan sehat-sehat saja. Konflik bukan berarti pemimpinnya tidak bisa memimpin. Konflik bukan berarti mereka tidak peduli dengan gerombolan. Marah dalam konflik kadang diperlukan untuk menunjukkan bahwa taring kita jika tidak lebih runcing tapi masih sama dengan taring yang dimiliki singa lain. Cara bijak menghadapi situasi itu adalah ambil prakarsa menciptakan proses dan menjadi mediator dengan menguji salah satu atau dua pemimpin singa-singa itu. Apakah reaksi yang dipicu sepadan dengan situasi yang diciptakan? Apakah terdapat pendapat-pendapat yang sama diantara berbagai pihak? Perlu identifikasi titik temu perbedaan yang terjadi. Untuk ini perlu kelapangan dada, menahan sesak, menutup mata-telinga, melihat masalah dari sudut pandang yang menyeluruh dan utuh. Butuh mental kuat dan kesabaran. Singa pemimpin perlu ciptakan iklim rasa aman bagi siapa saja yang terlibat maupun tidak. Perlakukan semua dengan lemah lembutmu, seperti kasih sayang ibu terhadap anaknya atau kekasih terhadap kekasihnya. Mencari jalan tengah yang bukan kompromi. Karena kompromi tidak memuaskan satu pemimpin dengan pemimpin lain. Ambil tanggung jawab mengikat kompromi itu. Beri waktu untuk merenung dan berpikir, serta dudukkan berdampingan bukan berhadapan yang memberi kesan sebagai perang.
Memimpin diantara pemimpin bisa jadi dicuekin. Pemimpin-pemimpin apatis dengan yang lebih memimpin. Dibiarkan mengangkat gunung, memindahkan taman dan kayangan. Disapa pun tidak. Apalagi dipuji dan dibilang terima kasih. Pemimpin yang diharuskan melayani yang sebenarnya melayani. Tidak ada yang mengadukkan kopi untuknya. Tidak ada kata tabik atau raut mimik yang mencerahkan. Perlu keiklasan. Ada yang mencatat kebaikan. Jika itu tidak menjadi modal sekarang, maka menjadi bekal masa depan. Melahirkan cerita, elegi, romantisme, bahkan epik perjuangan bagi generasi-generasi. Keyakinan siapa yang menanam pasti panen, siapa yang menabur pasti menuai, bisa menjadi hiburan di tengah basahnya keringat. Orang baik pasti mendapat kebaikan, orang yang berlaku buruk akan mendapat balasan. Sopo sing nandur bakal thukul. Berlaku iklas dan sabar, karena masa hari ini bukan yang terlihat sekarang tetapi waktu-waktu yang berjalan dan mata kita menjadi saksi langkah perubahan itu.
Memimpin di mana saja perlu keyakinan, keteguhan, iklas, tanggung jawab dan sabar ternyata. Kita menjadi pemimpin diantara keluarga kita. (9 Januari 2009)