Arsip untuk kategori ‘Paradigma Pendidikan Matematika’
Dengan Buku Kita Menjadi Pintar
Penawaran buku yang ditulis oleh Dr. Tatag Yuli Eko Siswono, M.Pd.
Pemesanan/Pembelian: tatagyes@gmail.com, HP. 08123055533,
Alamat Kantor: Jurusan Matematika FMIPA Unesa, Jln. Ketintang Surabaya 60231
Telp./Fax. : 0318297677
Alamat rumah: Perum. Gebang Raya AF-18 Sidoarjo 61231, telp. 0318924515
1.Mengajar dan Meneliti: Panduan Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru dan Calon Guru
Penerbit: Unesa University Press
Tahun: 2008
ISBN: 978-979-028-093-9
Hal: 146, vi, ilus, 24
Ukuran: B5 (JIS)
Harga: Rp. 30.000,00
Deskripsi:
Buku ini menguraikan secara ringkas, lugas, dan padat tentang peran dan manfaat PTK bagi guru/calon guru, konsep dasar PTK, cara merencanakan, menganalisis, mengobservasi, menulis proposal, menyusun laporan, hingga mempublikasikan. Uraian pembahasannya diberikan contoh-contoh yang ada di kelas dan dapat dilihat pada lampiran-lampiran. Selain itu, untuk mencari alternatif tindakan yang sesuai dan tepat dapat dilihat pada lampiran terakhir.
Daftar Isi:
1.Mengapa Guru Perlu Meneliti?
2.Apakah PTK itu?
3.Bagaimana Langkah Merencanakan PTK?
4.Bagaimana Menyusun Proposal?
5.Bagaimana Cara Mengumpulkan Data, Menganalisis, dan Membuat Tindak Lanjut PTK?
6.Bagaimana Menyusun Laporan PTK?
7.Bagaimana Mempublikasikan PTK?
8.Daftar Pustaka
9.Lampiran 1: Sampul Usulan/Laporan PTK
10.Lampiran 2: Halaman Pengesahan Usulan/Laporan
11.Lampiran 3: Contoh Proposal Penelitian
12.Lampiran 4: Contoh Laporan PTK
13.Lampiran 5: Artikel PTK
14.Lampiran 6: Kerangka Penyusunan PTK
15.Lampiran 7: Strategi Pembelajaran yang Inovatif
2.Model Pembelajaran Matematika berbasis Pengajuan dan Pemecahan masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif.
Penerbit: Unesa University Press
Tahun: 2008
ISBN: 978-979-028-093-9
Hal: 110 hal, vi, ilus, 21
Ukuran: B5 (ISO)
Harga: Rp. 25.000,00
Deskripsi:
Buku ini merupakan hasil penelitian yang menguraikan secara ringkas, lugas, dan padat tentang pentingnya berpikir kreatif dalam pembelajaran matematika, hubungan kreativitas, berpikir kreatif, pemecahan masalah, dan pengajuan masalah. Uraian lain membahas penelitian-penelitian yang relevan dan model pembelajaran matematika berbasis pengajuan dan pemecahan masalah yang disingkat model jucama, serta contoh-contoh perangkat pembelajaran yang sesuai.
Daftar Isi:
1.Pendahuluan: Pentingkah Belajar Matematika Menekankan Berpikir Kreatif?
2.Kreativitas dan Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Matematika
A.Kreativitas
B.Berpikir Kreatif
C.Berpikir Kreatif dalam Matematika
D.Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif (TBK)
3.Pemecahan Masalah dan Pengajuan Masalah
A.Pemecahan Masalah
B.Pengajuan Masalah
C.Pemecahan dan Pengajuan Masalah dalam Matematika
4.Penelitian yang Relevan
5.Model Pembelajaran
6.Model Pembelajaran Matematika Jucama
A.Landasan Teoritik Model Jucama
B.Tujuan Pembelajaran
C.Sintaks
D.Prinsip Reaksi
E.Sistem Pendukung
F.Contoh RPP dan LKS untuk Implementasi Model Jucama
7.Daftar Pustaka

Mengajar & Meneliti: Panduan Penelitian Tindakan Kelas

Model Pembelajaran Matematika berbasis Pengajuan dan Pemecahan masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif
Mendorong Berpikir Kreatif Siswa ( oleh Tatag Yuli Eko Siswono, Jurusan Matematika FMIPA, UNESA)
Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang hanya menekankan pada kemampuan berpikir logis dengan penyelesaian yang tunggal dan pasti. Hal ini yang menyebabkan matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi siswa. Padahal, matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dan menjadi salah satu pengukur (indikator) keberhasilan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan, serta menjadi materi ujian untuk seleksi penerimaan menjadi tenaga kerja bidang tertentu. Melihat kondisi ini berarti matematika tidak hanya digunakan sebagai acuan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tetapi juga digunakan dalam mendukung karier seseorang. Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan keluaran pendidikan yang tidak hanya trampil dalam suatu bidang tetapi juga kreatif dalam mengembangkan bidang yang ditekuni. Hal tersebut perlu dimanifestasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, termasuk matematika. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika. Tetapi, fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam matematika jarang atau tidak pernah tersentuh oleh pendidik. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Bagaimana upaya mendorong kemampuan berpikir kreatif dalam matematika itu? Salah satu pendekatan adalah dengan berorientasi pada konsep masalah pada suatu tugas atau situasi. Secara alami, seseorang apabila dihadapkan pada suatu masalah akan mulai berpikir dengan mencari alternatif-alternatif penyelesaiannya. Hal tersebut memang sifatnya individual. Suatu masalah bagi seseorang belum tentu menjadi masalah bagi orang lain. Misalkan seorang siswa kelas satu SD dihadapkan pada suatu pertanyaan “kalau kamu diberi apel oleh kedua kakakmu masing-masing 3 buah, dan kamu bawa 2 buah apel ke sekolah, maka berapa apel yang kamu tinggal di rumah?”. Bagi siswa tersebut pertanyaan itu bisa menjadi “masalah”, jika mereka memahami pertanyaan dan mengetahui langkah atau prosedur yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikannya, meskipun mungkin jawaban yang diberikan salah. Pertanyaan itu bisa juga bukan merupakan masalah, karena siswa tersebut tidak memahami pertanyaan tersebut dan pengetahuannya (pengetahuan prasyarat) belum dimiliki. Siswa tidak mengetahui langkah yang seharusnya diambil dalam menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, dapat terjadi karena siswa sudah pernah menghadapi pertanyaan itu di kelas atau pengalaman sehari-harinya, sehingga pertanyaan itu bukan masalah baginya, karena dapat dijawab dengan langsung berdasar pengalaman sebelumnya. Jadi perlu kecermatan dan kehati-hatian dalam memilih suatu pertanyaan atau soal sehingga menjadi suatu masalah yang menyebabkan seseorang atau siswa tertantang untuk menyelesaikannya. Suatu masalah bukan berarti suatu soal atau pertanyaan yang sulit dan hanya mampu dipecahkan oleh beberapa siswa yang cerdas atau berbakat dalam matematika saja, tetapi dipilih suatu pertanyaan yang tidak rutin (soal yang bukan baru saja diajarkan langkah-langkah penyelesaiannya), menantang, dan sebagian besar siswa mempunyai kapasitas memahami dan mempunyai cara-cara (strategi) tertentu untuk menyelesaikannya. Memberi tugas pemecahan masalah itu diyakini akan mendorong kemampuan berpikir siswa termasuk kemampuan berpikir kreatif. Apalagi jika masalah yang diberikan adalah masalah yang divergen tidak hanya pada cara tetapi juga pada jawaban yang tidak tunggal. Soal-soal yang rutin umumnya menuntut cara penyelesaian dan jawaban tunggal yang pasti (tepat), sedang non rutin memberi peluang perbedaan dalam cara maupun jawaban yang semuanya benar dan diterima secara logis. Upaya lain adalah dengan tugas pengajuan masalah. Pengajuan masalah intinya merupakan tugas kepada siswa untuk membuat atau merumuskan masalah sendiri yang kemudian dipecahkannya sendiri atau dipecahkan teman lainnya. Kegiatan pembelajaran matematika yang umum adalah siswa diberi masalah oleh guru (dari buku) dan diminta memecahkannya. Pengajuan masalah membalik prosedur itu dengan siswa membuat sendiri pertanyaan dan mencoba memecahkannya. Kegiatan ini mendorong siswa berpikir secara kreatif bagaimana suatu pertanyaan yang dapat dikerjakan ia sendiri atau teman lainnya dan mereka mencoba memahami suatu konsep atau materi yang telah dipelajarinya. Hasil penelitian penulis telah menunjukkan beberapa bukti bahwa pemecahan masalah maupun pengajuan masalah mendorong munculnya kemampuan berpikir kreatif dalam matematika.
PROMOTING CREAVITY IN LEARNING MATHEMATICS USING OPEN-ENDED PROBLEMS
Abstract. Recently, learning mathematics doesn’t enough just find a solution of routine problems. Students should have skills and competence to solve non routine or open ended problems. Open ended problems can promote mathematical creativity, improve their understanding, and motivate students to develop their ideas. Creativity is an important point in education not only in mathematics because it is needed to solve daily problems. The rapidly changing of technological and a limited of natural resources encourage someone to be creative and no surrender in facing daily life. Therefore, it need a tool to practice and direct students especially in learning mathematics by problem solving of open ended problems.
This paper will discuss a role of open ended problems to promote mathematical creativity and some example of problems.
Keywords: problem solving, open-ended problem, creativity
Makalah dipresentasikan pada The 3rd International Conference on Mathematics and Statistics (ICoMS-3), Institut Pertanian Bogor, Indonesia, 5-6 August 2008 . Naskah lengkap icoms2008-tatagyes1
Simposium Nasional 25-26 Juli 2007
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Pengajuan Masalah dan Pemecahan Masalah Matematika
Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang hanya menekankan pada kemampuan berpikir logis dengan penyelesaian yang tunggal dan pasti. Hal ini yang menyebabkan matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi siswa. Padahal, matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dan menjadi salah satu pengukur (indikator) keberhasilan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan, serta menjadi materi ujian untuk seleksi penerimaan menjadi tenaga kerja bidang tertentu. Melihat kondisi ini berarti matematika tidak hanya digunakan sebagai acuan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tetapi juga digunakan dalam mendukung karier seseorang. Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan keluaran pendidikan yang tidak hanya trampil dalam suatu bidang tetapi juga kreatif dalam mengembangkan bidang yang ditekuni. Hal tersebut perlu dimanifestasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, termasuk matematika. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika. Tetapi, fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam matematika jarang atau tidak pernah dikembangkan. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Pada makalah ini akan memaparkan bagaimana kemampuan berpikir kreatif siswa dapat ditingkatkan melalui pengajuan masalah dan pemecahan masalah matematika. Pengajuan masalah intinya merupakan tugas kepada siswa untuk membuat atau merumuskan masalah sendiri yang kemudian dipecahkannya sendiri atau dipecahkan teman lainnya. Hasil penelitian (Siswono, 2004; 2005) dan pendapat-pendapat ahli menunjukkan bahwa kegiatan tersebut mendorong kreativitas siswa. Demikian juga dengan kegiatan pemecahan masalah yang terpadu dengan kegiatan pengajuan masalah (Siswono, 2006a; 2006b; 2007). Indikator kemampuan berpikir kreatif difokuskan pada aspek kefasihan (fluency), kebaruan (novelty), dan fleksibilitas dalam memecahkan maupun mengajukan masalah. Kata kunci: kemampuan berpikir kreatif, pemecahan masalah, pengajuan masalah, kefasihan, kebaruan, fleksibilitas