Mengajar, Meneliti, dan Mengabdi

Beranda »

Mempimpin di Tengah Pemimpin


Kegelisahan yang membayangi ketika seseorang dipilih menjadi seorang pemimpin adalah ketika mengetahui bahwa yang dipimpinnya adalah pemimpin-pemimpin lain. Bukan hanya mantan pimpinan, guru, atau panutan dalam hidupnya tapi benar-benar pimpinan yang level berpikir, tingkat kekuasaannya melebihi dari pimpinannya sendiri. Apa yang akan pemimpin itu lakukan? Belajar. Belajar kata unggulan kalau tidak diartikan sebagai alih-alih dari menunggu dan melihat sampai bosan kemudian baru dilakukan. Ketika sudah ditasbihkan sebagai pemimpin, maka saat itu bukan lagi belajar, tapi mengingat kembali dan mencoba implementasi hasil-hasil dan proses-proses belajar yang telah dilakukan secara sadar maupun tidak sadar. Pemimpin tentunya tidak lahir seperti bayi yang tiba-tiba hadir dengan keberkahan atau rezeki yang diturunkan dari langit. Pemimpin tentunya lahir dari proses panjang yang dibangun dari keseharian, pergaulan, bukti-bukti nyata serta keyakinan orang-orang yang menaruh harapan. Sebagaimana banyak kisah ksatria dalam pewayangan bahwa wahyu (misalkan makutorama) itu datang kepada pencarinya (kstaria), bukan pencari mencari wahyu itu. Banyak cerita kegagalan jika wahyu itu dikejar, diburu, diharap-harap dengan berlebihan, apalagi dengan kecurangan, tipu daya, atau muslihat. Sebaliknya, seseorang yang memang akan mendapatkan jatmiko, tetap memendam untuk berbuat sebaik-baiknya (obsesi) dan mencari keinginan itu melalui laku utomo (jalan keutamaan) dalam keseharian sehingga melahirkan keyakinan, menumbuhkan citra, mengukir kharisma, menggairahkan doa bagi siapa saja yang memperhatikan. Hal terjadi juga, menciptakan sinisme, mendorong ejekan, maupun kebimbangan bagi mereka yang tidak menginginkan. Kalau begitu pemimpin bukan takdir, tetapi kepercayaan dan keyakinan bahwa diantara para pemimpin itu ada satu yang diyakini sebagai ”simbol” pemimpin.
Bisa dibayangkan bila seekor singa diantara singa-singa lain. Singa-singa itu tidak bisa ditundukkan dengan besarnya taring atau kerasnya auman. Singa-singa itu tidak gentar bila seekor singa akan membawa tetua singa untuk mendampingi dan menceritakan sejarah-sejarah atau tamsil kekuasaannya. Satu ekor singa tentu akan kalah beradu auman bila lainnya mengaum. Para singa akan berdalih bahwa kami yang menjadikan kamu pemimpin, maka tunduklah kamu padaku. Bagaimana engkau seekor singa pemimpin? Apakah dayamu dan nyalimu tunduk, lunglai, dan mati? Tentu tidak. Mereka para singa memilih pada pemimpinnya, pasti ada yang dengan harapan dan keyakinan. Pasti ada yang mendoakan untuk tegar dan semangat menghela para singa. Keyakinan itu menjadi keteguhan, inspirasi, dan semangat. Akan dipahami bahwa singa-singa di dunia pasti mempunyai seringai yang berbeda-beda. Mereka mempunyai nada auman dengan oktaf bervariasi. Mereka mempunyai rahasia kelemahan masing-masing. Dengan demikian, kunci kekuatannya adalah pada pemahaman terhadap para singa, tidak mengigit-menyeringai dahulu, tidak menunjukkan belang-belang dan tentunya yakin dan percaya bahwa seekor singa pemimpin dipilih karena nilai lebih yang dimiliki meskipun kadang tidak disadari.
Karena berada dalam suatu gerombolan, maka akan ada para singa diantaranya beradu lari. Mengajak sebagian singa dibawah bayang-bayangnya. Mendorong singa lain membangun wilayah-wilayah lain. Bahkan bisa jadi mengancam, intimidasi, atau provokasi terhadap singa-singa lain. Bagaimanakah jalanmu seekor singa? Berlarikah kau dalam kekalutan dan berharap bangun pagi bukan di tempat tidurmu? Apakah dengan senyum seperti Bu Megawati dan membiarkan sirna? Ataukah seperti Gus Dur yang membiarkan begitu saja dan berguman ”begitu kok repot!”? Memang, itu salah satu cara, tetapi itu tidak diharapkan, bukan? Perbedaan kepentingan, motivasi, pengaruh, dominasi, maupun persaingan menumbuhkan konflik. Konflik tidak akan teratasi jika dibiarkan. Konflik bukan hal yang tidak menyenangkan, bila dinikmati akan sehat-sehat saja. Konflik bukan berarti pemimpinnya tidak bisa memimpin. Konflik bukan berarti mereka tidak peduli dengan gerombolan. Marah dalam konflik kadang diperlukan untuk menunjukkan bahwa taring kita jika tidak lebih runcing tapi masih sama dengan taring yang dimiliki singa lain. Cara bijak menghadapi situasi itu adalah ambil prakarsa menciptakan proses dan menjadi mediator dengan menguji salah satu atau dua pemimpin singa-singa itu. Apakah reaksi yang dipicu sepadan dengan situasi yang diciptakan? Apakah terdapat pendapat-pendapat yang sama diantara berbagai pihak? Perlu identifikasi titik temu perbedaan yang terjadi. Untuk ini perlu kelapangan dada, menahan sesak, menutup mata-telinga, melihat masalah dari sudut pandang yang menyeluruh dan utuh. Butuh mental kuat dan kesabaran. Singa pemimpin perlu ciptakan iklim rasa aman bagi siapa saja yang terlibat maupun tidak. Perlakukan semua dengan lemah lembutmu, seperti kasih sayang ibu terhadap anaknya atau kekasih terhadap kekasihnya. Mencari jalan tengah yang bukan kompromi. Karena kompromi tidak memuaskan satu pemimpin dengan pemimpin lain. Ambil tanggung jawab mengikat kompromi itu. Beri waktu untuk merenung dan berpikir, serta dudukkan berdampingan bukan berhadapan yang memberi kesan sebagai perang.
Memimpin diantara pemimpin bisa jadi dicuekin. Pemimpin-pemimpin apatis dengan yang lebih memimpin. Dibiarkan mengangkat gunung, memindahkan taman dan kayangan. Disapa pun tidak. Apalagi dipuji dan dibilang terima kasih. Pemimpin yang diharuskan melayani yang sebenarnya melayani. Tidak ada yang mengadukkan kopi untuknya. Tidak ada kata tabik atau raut mimik yang mencerahkan. Perlu keiklasan. Ada yang mencatat kebaikan. Jika itu tidak menjadi modal sekarang, maka menjadi bekal masa depan. Melahirkan cerita, elegi, romantisme, bahkan epik perjuangan bagi generasi-generasi. Keyakinan siapa yang menanam pasti panen, siapa yang menabur pasti menuai, bisa menjadi hiburan di tengah basahnya keringat. Orang baik pasti mendapat kebaikan, orang yang berlaku buruk akan mendapat balasan. Sopo sing nandur bakal thukul. Berlaku iklas dan sabar, karena masa hari ini bukan yang terlihat sekarang tetapi waktu-waktu yang berjalan dan mata kita menjadi saksi langkah perubahan itu.
Memimpin di mana saja perlu keyakinan, keteguhan, iklas, tanggung jawab dan sabar ternyata. Kita menjadi pemimpin diantara keluarga kita. (9 Januari 2009)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indah Rokhmawati

another part of my life

fatkoer.wordpress.com

Sahabat Pembelajar

P4MRI Universitas Negeri Surabaya

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

Moh Ikhsan's Blog

Blog untuk belajar, belajar untuk berbagi

aghrasmart

Man Jadda Wa Jada

Cerita Keluarga

Bangkitkan Generasi Sukses

Finasma

Forum Interaktif Nasional Alumni SMA

Matematika & Pendidikan Karakter

Membangun Karakter Melalui Matematika

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: