Mengajar, Meneliti, dan Mengabdi

Beranda »

Mendorong Berpikir Kreatif Siswa


( oleh Tatag Yuli Eko Siswono, Jurusan Matematika FMIPA, UNESA)

Matematika sering dianggap sebagai ilmu yang hanya menekankan pada kemampuan berpikir logis dengan penyelesaian yang tunggal dan pasti. Hal ini yang menyebabkan matematika menjadi mata pelajaran yang ditakuti dan dijauhi siswa. Padahal, matematika dipelajari pada setiap jenjang pendidikan dan menjadi salah satu pengukur (indikator) keberhasilan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan, serta menjadi materi ujian untuk seleksi penerimaan menjadi tenaga kerja bidang tertentu. Melihat kondisi ini berarti matematika tidak hanya digunakan sebagai acuan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi tetapi juga digunakan dalam mendukung karier seseorang. Tantangan masa depan yang selalu berubah sekaligus persaingan yang semakin ketat memerlukan keluaran pendidikan yang tidak hanya trampil dalam suatu bidang tetapi juga kreatif dalam mengembangkan bidang yang ditekuni. Hal tersebut perlu dimanifestasikan dalam setiap mata pelajaran di sekolah, termasuk matematika. Dalam standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah mata pelajaran matematika (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tanggal 23 mei 2006 tentang standar isi) telah disebutkan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis maupun bekerja sama sudah lama menjadi fokus dan perhatian pendidik matematika di kelas, karena hal itu berkaitan dengan sifat dan karakteristik keilmuan matematika. Tetapi, fokus dan perhatian pada upaya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam matematika jarang atau tidak pernah tersentuh oleh pendidik. Padahal kemampuan itu yang sangat diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Bagaimana upaya mendorong kemampuan berpikir kreatif dalam matematika itu? Salah satu pendekatan adalah dengan berorientasi pada konsep masalah pada suatu tugas atau situasi. Secara alami, seseorang apabila dihadapkan pada suatu masalah akan mulai berpikir dengan mencari alternatif-alternatif penyelesaiannya. Hal tersebut memang sifatnya individual. Suatu masalah bagi seseorang belum tentu menjadi masalah bagi orang lain. Misalkan seorang siswa kelas satu SD dihadapkan pada suatu pertanyaan “kalau kamu diberi apel oleh kedua kakakmu masing-masing 3 buah, dan kamu bawa 2 buah apel ke sekolah, maka berapa apel yang kamu tinggal di rumah?”. Bagi siswa tersebut pertanyaan itu bisa menjadi “masalah”, jika mereka memahami pertanyaan dan mengetahui langkah atau prosedur yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikannya, meskipun mungkin jawaban yang diberikan salah. Pertanyaan itu bisa juga bukan merupakan masalah, karena siswa tersebut tidak memahami pertanyaan tersebut dan pengetahuannya (pengetahuan prasyarat) belum dimiliki. Siswa tidak mengetahui langkah yang seharusnya diambil dalam menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu, dapat terjadi karena siswa sudah pernah menghadapi pertanyaan itu di kelas atau pengalaman sehari-harinya, sehingga pertanyaan itu bukan masalah baginya, karena dapat dijawab dengan langsung berdasar pengalaman sebelumnya. Jadi perlu kecermatan dan kehati-hatian dalam memilih suatu pertanyaan atau soal sehingga menjadi suatu masalah yang menyebabkan seseorang atau siswa tertantang untuk menyelesaikannya. Suatu masalah bukan berarti suatu soal atau pertanyaan yang sulit dan hanya mampu dipecahkan oleh beberapa siswa yang cerdas atau berbakat dalam matematika saja, tetapi dipilih suatu pertanyaan yang tidak rutin (soal yang bukan baru saja diajarkan langkah-langkah penyelesaiannya), menantang, dan sebagian besar siswa mempunyai kapasitas memahami dan mempunyai cara-cara (strategi) tertentu untuk menyelesaikannya. Memberi tugas pemecahan masalah itu diyakini akan mendorong kemampuan berpikir siswa termasuk kemampuan berpikir kreatif. Apalagi jika masalah yang diberikan adalah masalah yang divergen tidak hanya pada cara tetapi juga pada jawaban yang tidak tunggal. Soal-soal yang rutin umumnya menuntut cara penyelesaian dan jawaban tunggal yang pasti (tepat), sedang non rutin memberi peluang perbedaan dalam cara maupun jawaban yang semuanya benar dan diterima secara logis. Upaya lain adalah dengan tugas pengajuan masalah. Pengajuan masalah intinya merupakan tugas kepada siswa untuk membuat atau merumuskan masalah sendiri yang kemudian dipecahkannya sendiri atau dipecahkan teman lainnya. Kegiatan pembelajaran matematika yang umum adalah siswa diberi masalah oleh guru (dari buku) dan diminta memecahkannya. Pengajuan masalah membalik prosedur itu dengan siswa membuat sendiri pertanyaan dan mencoba memecahkannya. Kegiatan ini mendorong siswa berpikir secara kreatif bagaimana suatu pertanyaan yang dapat dikerjakan ia sendiri atau teman lainnya dan mereka mencoba memahami suatu konsep atau materi yang telah dipelajarinya. Hasil penelitian penulis telah menunjukkan beberapa bukti bahwa pemecahan masalah maupun pengajuan masalah mendorong munculnya kemampuan berpikir kreatif dalam matematika.


7 Komentar

  1. iksan mengatakan:

    Jika pembelajaran matematika menekankan pada berpikir kreatif, apakah waktu yang digunakan pada proses pembelajaran tidak menggunakan waktu yang relatif lama.
    jika membutuhkan waktu yang relatif lama bagaimanakah nasip materi yang lain??? apakah ditinggalkan atau diapakan. padahal peserta didik pada saat kelas akhir diadakan UNAS oleh dinas pendidikan ?
    menurut anda bagaimana solusinya?

    • tatagyes mengatakan:

      Kalau pemeblajaran dikelola dengan baik, dianalisis yang tepat waktu untuk mengajar akan efisien. Materi yang penting harus dilatihkan dengan seefektif mungkin, materi yang mudah tidak dipanjang-panjangkan.

  2. gandha mengatakan:

    Setuju….!!!!

    Apanya nih yang setuju?

    Pada jenjang pendidikan dasar, sebenarnya yang dipelajari dari matematika sebagian besar adalah aritmetika yang menawan, aljabar yang mengagumkan dan keindahan geometri. Yang ketiganya bisa dikuasai dengan dua sayap.

    Sayap pertama adalah disiplin dan sayap kedua adalah kreativitas.

    Penguasaan akan matematika akan sangat mudah dengan dua sayap itu.

    Mari terbang dengan dua sayap, kita arungi keindahan dan ketakjuban di kerajaan matematika.

  3. Andi Yuliana mengatakan:

    Saya tertarik pak dengan tulisan bapak…

    dan apakah bapak ada saran kira-kira judul tesis seperti apa untuk mengangkat penelitian sebagaimana tulisan bapak di atas

    • tatagyes mengatakan:

      Strategi-strategi pembelajaran yang bisa mendorong berpikir kreatif, atau apa saja media, sarana prasarana yang memungkinkan melatih berpikir kreatif.

  4. nano mengatakan:

    Mencermati tulisan Bapak,…..saya sangat tertarik. Tapi kemudian pertanyaan muncul dalam benak saya. Menurut Bapak… (1)Pada usia berapa pengajaran tersebut paling efektif dan efisien di berikan pada anak-anak.dan (2) Proporsi soal yang rutin dan non rutin itu sebaiknya berapa agar dapat diterima pada anak-anak agar tidak menimbulkan frustasi pada anak.Trima kasih banyak

    • tatagyes mengatakan:

      (1) Tidak ada informasi yang pasti kapan usia efektif dan efisien untuk pengajaran kreatif. Mungkin hal ini perlu penelitian lebih lanjut. Tetapi berpikir kreatif perlu diajarkan sejak dini, seperti sejak di PAUD. Contoh jika “2” ditunjukkan dengan telunjuk dua, bisa juga ditunjukkan dengan dua jari telunjuk dan jari tengah, atau turus dua II, atau dua kepal tangan, dll. Contoh ini menunjukkan pemikiran yang divergen. (2) Proporsinya bisa 50-50, 25-75, 75-25, atau 100 tergantung pada siswanya, bisa jadi soal yang divergen membuat siswa tertarik dan tertantang, Soal divergen tidak berarti soal yang sulit, misalkan 2 + 3 = …+…, 2 + 3 = …+ …+ …. Semoga bermanfaat dan sukses selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Indah Rokhmawati

another part of my life

fatkoer.wordpress.com

Sahabat Pembelajar

P4MRI Universitas Negeri Surabaya

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

Moh Ikhsan's Blog

Blog untuk belajar, belajar untuk berbagi

aghrasmart

Man Jadda Wa Jada

Cerita Keluarga

Bangkitkan Generasi Sukses

Finasma

Forum Interaktif Nasional Alumni SMA

Matematika & Pendidikan Karakter

Membangun Karakter Melalui Matematika

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d blogger menyukai ini: